
Udah mau pemilu lagi. Itu artinya secara resmi gue udah jomblo lima pemilu. Entahlah... Gue harus pake metode apa lagi biar kutukan jomblo ini segera berakhir.
Di suatu sore yang belum malam, gue keliling kampung dibonceng Jabon. Di saat itulah, di tepi jalan kami melihat seorang wanita sedang menangis memegangi kakinya.
"Aduh, Mbak, kenapa kakinya?" Jabon bertanya kuatir.
"Kaki saya keseleo," jawab si Mbak sambil merintih memegangi kakinya. "Sakit, Mas, sakit banget..."
"Iya, Mbak. Sabar ya, Mbak..." Jabon berusaha nenangin, sambil membantu mengusap-usap kakinya si Mbak. "Mbak rumahnya dimana deh, biar saya anterin pulang..."
"Terima kasih, Mas. Rumah saya di RT 509."
Selanjutnya Jabon nganterin Mbak itu pulang. Gue terpaksa pulang numpang truk batubara.
Dua minggu kemudian, gue baca berita di mading balai desa, Jabon udah resmi jadian sama Mbak yang ditolongnya itu. Huft! Bisa banget Jabon dapet pacar.
"Makanya, Zuck. Kalo mau dapet perhatian cewek, lo harus rela membantunya apa saja," pamer Jabon.
"Gitu, ya, Bon? Oke!"
Di suatu sore yang lain, gue jalan keliling kampung sendirian, dan kebetulan gue melihat seorang wanita menangis di pinggir jalan. Gue berpikir, inilah bagian gue.
"Kaki sebelah mana yang keseleo, Mbak. Biar saya pijitin trus nanti saya antar pulang," tanya gue semangat.
"Saya nangis karena baru diputusin pacar tau!"
"Oh. Kok ga keseleo sih?" gue kecewa ternyata kaki si Mbak ga kenapa-napa.
"Jangan ganggu saya, saya pengen sendiri," si Mbak makin nangis.
Tapi gue ga boleh nyerah. Gue harus bisa membantu Mbak ini keluar dari kegalauan. "Ga perlu ditangisin dong, Mbak. Cuma diputusin ini. Harusnya Mbak gembira, karena dengan begitu Mbak bisa dapat pengganti yang ganteng, kayak saya."
Si Mbak memandang gue dengan tatapan ga respek. "Tampang kayak stiker caleg gitu ganteng apaan?!"
"Hahaha. Mbak juga kayak caleg dari partai final."
"Kita memang kayak caleg. Saya Cantik. Situ jeLeg!"
"Tapi Mbak i love you kan sama saya?" fitnah gue sosoan pake basa Inggris.
"GO TO HELL!!" jawab si Mbak ketus.
"Hell is too far, Mbak. Let's go to my bed."
Si Mbak melototin gue, lalu mengangkat tangannya, ga tau deh entah mau nampar gue atau mau berdada-dada sama awan sore. Tapi kemudian tangan itu diturunkan, dipakainya untuk mengelus-elus dada sambil bergumam: "Sabar, sabar...."
Gue teringat kata-kata mutiara Jabon, 'kalo mau dapet perhatian cewek, lo harus rela membantunya'. Oke!
"Iya, Mbak. Yang sabar yah, Mbak," hibur gue sambil ikut mengusap-ngusap
Tak dinyana:
"BIADAB LO!!" teriak si Mbak menggelegar, kemudian enyah meninggalkan gue setelah sebelumnya memberi bunyi PLAKKK!! di pipi kanan gue.
Hiks. Gue gagal dapat pacar lagi gaes.
