
Ruang tamu sebuah rumah kecil yang sederhana. Malam itu malam jum'at, yang bertepatan dengan peringatan 40 hari menikahnya mereka. Linn terlihat sedang menyetrika pakaian, sementara Zuck yang melipat dan menyusunnya ke dalam lemari.
Begitulah mereka setiap harinya, berusaha kompak di setiap kesempatan dan kegiatan. Kalo Linn belanja ke pasar, Zuck yang bertugas membawa barang belanjaan. Saat masak, Linn yang mengulek bumbu, Zuck yang mengirisi sayuran atau marut kelapa. Waktu makan, Linn yang mengunyah makanan, Zuck yang menelan.
"Ternyata semua tetek bengek rumah tangga, kalo dilakukan sama-sama terasa menyenangkan ya, Mas?"
"Yaiya dong. Tapi menurutku kamu jangan terlalu sibuk deh, Sayang..
"Lho kenapa?"
"Ntar kamunya capek. Aku aja males mikirin tetek bengek rumah tangga, mending mikirin tetek kam...
"Heh!" Linn mendelik. Menodongkan setrikaan panas.
Zuck tertawa tanpa suara. "Udah deh, yuk. Nyetrikanya dilanjutin besok. Capek
"Tinggal dikit lagi lho ini, Mas."
"Mangkanya jangan dihabisin. Udah tau tinggal dikit. Pengiritan, Sayang, pengiritan. Hih.." Zuck mencabut colokan setrika. Lalu menarik tangan Linn, dibawanya duduk di sofa.
"Pinjam hape dong, Sayang, bentar.
Mau update status: 'Mau bobo sama istri', hihihii..
Zuck mengambil hape Linn dan segera log in akun facebooknya, tapi ternyata tidak bisa. Dicoba sekali lagi. Masih juga tidak bisa. Entah kenapa.
"Duh. Susah banget, Beb, masuknya..
"Coba diludahin, Mas," usul Linn sambil mengedip genit.
"Cuih!" Zuck meludahi hape Linn.
"Ya Alloh, hapekuu! Hapekuu!" Linn meratapi hapenya. Diraihnya bantal sofa, dilemparkan ke arah Zuck.
"Haha!" Zuck menghindar, sambil tertawa ia berlari ke kamar. Ia berharap Linn akan mengejar. Tapi apa, sudah hampir 10 menit Linn belum juga menyusul.
"Sayang..." Zuck memanggil-mangg
Tak ada sahutan. Hening. Zuck yang penasaran akhirnya keluar kamar. Dicarinya Linn di ruang tamu, dapur, kamar mandi, di atas genteng, tapi Linn tidak ada.
"Sayang, kamu dimana? Tadi tuh ngeludahnya tuh ga beneran. Cuma suara doang. Duh, kamu ini. Ayo dong keluar. Ga lucu tau udah suami istri gini masih main petak umpet?"
Tetap hening.
"Okay, kuhitung sampai tiga nih, kalo masih ga mau keluar juga, kuhitung sampai sepuluh!" ancam Zuck.
Linn yang bersembunyi di belakang lemari ngikik dalam hati. Hihihi. Rasain.
Zuck ga kehilangan akal. Dengan gesit dia mematikan seluruh lampu. Seisi rumah tiba-tiba gelap gulita. Dan taktik itu cukup berhasil.
"Maass!" Linn berteriak ketakutan.
"Hahaha.." Zuck buru-buru kembali menyalakan lampu. Terlihat Linn berdiri merengut di sudut ruangan. Sambil tersenyum, Zuck melangkah menghampiri istrinya itu.
"Jahat banget," Linn merajuk.
"Jahat kenapa sih?"
"Pake nanya lagi. Gelap tau ga sih Mas. Mana malam jum'at.."
Kedua tangan Zuck memegang kepala Linn. Ditatapnya dalam-dalam. "Seperti itu juga rasanya kalo kamu jauh dariku, Sayang. Gelap."
"Gombal!" Linn buang muka.
"Duarius, Sayang, haha" goda Zuck mengacak-ngacak
Linn tergadah, menatap wajah Zuck yang 7 centi lebih tinggi dari dirinya. Disentuhnya wajah itu penuh perasaan. Zuck mendorong tubuh Linn, dipepetkannya ke dinding. Pelan tapi pasti wajahnya mendekati wajah Linn, yang sudah menanti berdebar sekaligus tak sabar. Semua titik diserangnya, kening, kuping, bibir, semuanya. Tangan kiri memegang kepala belakang Linn, sementara tangan kanan sudah seperti lagunya Ayu Ting Ting, kemana kemana kemaana.
"Kok rambutnya kamu jadi enggak lurus gini sih, Sayang?"
"Aduh, Mas. Kayaknya kamu salah pegang rambut deh ah. Rambut ketek atau rambut apa?"
desah Linn.
"Ah sudahlah..." Zuck ga peduli dan meneruskan kegiatannya.
Linn menggeliat.
"Kenyal, Bebi..." Zuck berbisik lembut.
Linn merangkul erat. Badannya agak membukuk menahan letupan. "Kurawat Mas, biar Mas-nya sayang terus sama Linn...
"Oh yah?"
"Iyah. Kan pribahasa bilang 'tak kenyal maka tak sayang'?"
"Hsshahh.."